ERIGO STORE

Borobudur After The Rain

Apr 13, 2016

Hujan gerimis menyambut kedatangan Gue, Gata, Gita dan Febrian begitu sampai di pelataran Candi Borobudur. Niat awal sengaja berangkat subuh dari Yogyakarta untuk melihat sunrise pun ternyata sia-sia. Untungnya Febrian nggak kehabisan akal untuk bisa menikmati keindahan candi Borobudur di pagi hari.

“Ini sih nggak akan bisa dapet sunrise. Gerimis gini.” Kata Febrian melihat ke luar kaca mobil.

“Tapi tenang, kita ke Punthuk Setumbu aja dulu nanti baru ke borobudur lagi. Nggak jauh kok dari sini. Cuma beberapa kilometer. Kita bisa liat Borobudur dari jauh gitu, keren juga kok, Mudah-mudahan sih di sana nggak ujan. Tapi kalo semisalnya ujan, yaudah kita mandi ujan aja rame-rame. Haha” lanjutnya.

“Gue sih ayo-ayo aja kalo mandi ujannya bareng Gita..haha” Celetuk Gata. Gita cuma membalasnya dengan ketawa kecil.

“SUKA SUKA LO GAT!” Febrian Sewot.

Untuk masuk ke kawasan punthuk setumbu, setiap orangnya dikenakan biaya sebesar 15 ribu rupiah. Dan untuk sampai di puncaknya, kita harus berjalan sekitar 500 meter menaiki anak tangga. Cukup melelahkan untuk orang yang nggak biasa olahraga kaya gue.

Sesampainya di puncak Punthuk Setumbu, ternyata langit masih mendung dan candi Borobudur yang terlihat dari kejauhan pun masih tertutup oleh kabut. Meskipun sedikit kecewa, tapi tetap nggak mengurangi pemandangan  selepas hujan di punthuk setumbu.

 

Selain pemandangan candi Borobudur yang tertutup kabut, ada satu hal lagi yang menarik perhatian gue. Seorang kakek paruh baya memakai topi snap back terbalik sedang asik menghisap rokok krektek sambal menikmati pemandangan.

Namanya Mbah Sandung, kakek yang masih terlihat sehat ini berusia 82 tahun. Tapi, sewaktu diajak berkenalan sama Gita, beliau mengaku umurnya masih 28 tahun sambil senyum-senyum genit. Ternyata selain Hobi merokok, Mbah Sandung ini juga Hobi modusin cewek.

 

 

Febrian sempat bilang, Mbah Sandung ini hampir setiap hari ada di Punthuk Setumbu. Kerjaannya ya memang menarik wisatawan yang datang untuk sekedar foto bareng sama beliau. Biasanya suka ada aja wisatawan lokal atau asing yang ngasih uang secara sukarela. Nggak heran sih, beliau sadar kamera banget kalau mau difoto. Gue curiga jangan-jangan dia mantan Cover Boy tahun 50an.

Bercanda dengan Mbah Sandung sedikit mengobati rasa kecewa kami berempat yang nggak berhasil melihat sunrise di Borobudur. Meskipun begitu, kami tetap bersyukur atas keindahan pemandangan yang diberikan Tuhan pagi Itu.

 

Selesai turun dari Punthuk Setumbu, kita berempat balik lagi ke Candi Borobudur. Gata, di usianya yang 25 tahun ternyata belum pernah masuk ke Candi Borobudur. Pantesan, saking excitednya, begitu masuk ke kawasan Candi Borobudur, Gata langsung seliweran ke setiap sudut candi.

Nggak cuma gata yang Excited sama ajaibnya Candi Borobudur. Gue, yang sebelumnya pernah ke sini aja masih sangat kagum dengan keajaiban arsitektur di setiap sudutnya, proses pembuatannya dan juga para pekerjanya. Makanya nggak heran kalo Candi Borobudur jadi salah satu dari World’s Seven Wonder.

Ada kejadian lucu sewaktu kami berempat sedang mengelilingi kawasan candi. Karena kita masuknya berbarengan dengan anak-anak SD yang sedang study tour, jadilah Febrian dikira turis jepang oleh salah satu rombongan gadis kecil berseragam batik sekolah.

“Hello Mister, where you come from?” Tanya salah satu anak perempuan berkacamata ke Febrian.

“Hello sweety…I’m from….”

“Jakarta!” Teriak Gata memotong jawaban Febrian. Spontan anak perempuan tersebut hening sejenak. Heran.

“Cah Sarap..” kata Febrian melirik ke Gita sambal menunjuk Gata. Gita cuma bisa ketawa sambil geleng-geleng.

“What food do you like mister?” Tanya anak perempuan lainnya.

“Nasi Gowreeeng..” Jawab Gata.

Entah apa yang anak perempuan itu pikirkan pas dia mendengar jawabannya Gata. Dia yang salah orang atau memang dia lagi sial ketemu Gata. Tapi yang jelas, anak perempuan tersebut tetap menulis apa yang dijawab Gata dengan eksperesi polosnya.

Nggak cuma itu aja, Gita yang lagi asik berkeliling tiba-tiba serombongan anak SMP berkerudung menghampiri Gita dan langsung meminta foto bareng dengan tongkat selfienya. Mungkin mereka engeh kalau Gita pernah main di salah satu FTV dan juga sinetron.

Well, memang benar hujan itu selalu membawa berkah. Meskipun nggak mendapatkan sunrise di Borobudur, cuaca mendung dan berkabut di punthuk setumbu, kita berempat tetap mendapatkan pengalaman seru dengan bertemu orang-orang baru.