ERIGO STORE

Komodo Island part III

Mar 04, 2016

Kurang lengkap rasanya pergi kepulau Komodo, tapi nggak melihat binatang purbakala  itu secara langsung. Gata yang sudah nggak sabar mau bertemu langsung dengan Komodo, sibuk sendiri menjulur-julur kan lidah menirukan gaya komodo di depan Anggi. “ Nggak lucu Gat!” Kata Anggi Datar.

Begitu sampai di Loh Buaya, Gue, Gata dan Anggi langsung segera menemui Ranger (Pawang Komodo) di pos jaga. Karena harus mengejar waktu ke pulau kalong sebelum matahari terbenam, kami ber tiga hanya punya waktu 30 menit untuk melihat Komodo.

Baru jalan beberapa langkah dari pos jaga, tiba-tiba ada satu Komodo Jantan berjalan di depan Gue, Gata, Anggi dan juga Ranger kami. Gata yang sedari tadi nggak bisa diem, langsung di tegur oleh Ranger.

“Kalo ada Komodo, kalau bisa kita punya badan jangan banyak gerak. Karena dia suka menyerang tiba-tiba, begitu”. Katanya sambil menahan langakah kami. Gue langsung menelan ludah. Sementara Gata Cuma bisa diem sambil garuk-garuk kepala


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Baru mau mulai jalan lagi, kita semua dikejutkan dengan fenomena langka dan sangat jarang ditemui oleh pengunjung. Komodo Buang air besar!.Ya, sontak kita semua langsung tertawa. Cuma Anggi doang yang terlihat takjub melihat Komodo buang air besar.Gue juga nggak ngerti kenapa dia bisa sampe takjub begitu.

“Kalian beruntung bisa lihat Komodo buang air besar. Karena jarang sekali ada yang melihat” Kata ranger kami dengan logat floresnya. Gue Cuman gegeleng kepala sambil melihat sekeliling untuk berjaga-jaga kali aja ada komodo di belakang gue. Nggak lucu aja kalo tiba-tiba gue dipeluk komodo dari belakang.

“Itu kenapa warna putih gitu ya pak kotorannya?” Tanya Anggi penasaran.

“Itu warna putih dari tulang dia punya mangsa begitu.” Jawab Ranger

“Waduh, nggak keselek tuh pak? Saya aja makan ikan sering banget keselek durinya” kata Gata memotong perbincangan Anggi.

 

“hahaha, Tidak. dia punya kandungan asam di perutnya itu kuat sekali. Tulang yang keras begitu masih bisa dicerna. Kecuali tanduknya begitu. Komodo tidak suka makan tanduk”

“Sama pak, saya juga nggak suka makan tanduk, saya mah doyannya nasi uduk” Lanjut Gata

“Udah pak, nggak usah ditanggepin” Kata Anggi mencoba memotong ocehan Gata.

“Hahaha, tidak apa apa..”

Setelah puas melihat beberapa Komodo jantan, kami bertiga langsung berangkat menuju pulau kalong dengan menggunakan boat kecil. “Kalau dengan kapal besar, bisa-bisa kita telat kepulau kalong” Kata Encank sambil tetap mengendalikan stir boatnya.

Nggak sampai memakan waktu satu jam perjalanan, beberapa meter dari boat kami, sudah terlihat beberapa kapal yang ‘parkir’ sambil menikamati sunset di depan pulau kalong. “Kita berhenti di sini?” Tanya Anggi masih terlihat bingung.

“Iya Mba. Kita tunggu saja di sini sambil nikmatin sunset. paling oke di sini. Tenang, sebentar lagi Kalongnya keluar” Jawab Encank.

“Oh…iya. Bentar lagi bubaran pabrik nih” Celetuk Gata.

“Hahaha..bangke lo!” Anggi tertawa sambil memukul bahu Gata. Baru kali ini gue lihat Anggi tertawa sama celetukannya Gata. Sisa celetukan Gata ditelen mentah-mentah sama Anggi.

Langit pun perlahan berubah warna menjadi oranye kemerahan. Satu persatu kalong mulai terbang dari sarangnya untuk mencari makan keflores. Semakin lama semakin banyak kalong yang keluar dari sarang. Dari yang tadinya hanya puluhan, sampai akhirnya puluhan ribu kalong terbang memenuhi langit merah pulau kalong. Uniknya, momen seperti ini selalu terjadi rutin setiap hari di Pulau Kalong.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

"The Best sih ini” Kata Gata sambil merangkul Anggi. Anggi mengangguk sambil tersenyum melihat puluhan ribu kalong yang berterbangan. Mereka berdua sempat hening beberapa saat.

“Ternyata seru juga ye, jalan bareng kalian hahaha” Kata Gata menambahkan.

“Ya iyalah, lu beruntung bisa dapet travel mate yang pas kaya gue!” Kata Giti sambil tersenyum.