ERIGO STORE

Komodo Island Part II

Mar 04, 2016

Nggak ada pemandangan yang lebih indah selain pas pertama kali membuka mata langsung melihat matahari terbit di balik pulau padar. Pulaunya yang berwarna kuning kecoklatan seakan menyuruh Gue  untuk segera menginjakan kaki di puncaknya.

Kemarin Pak Salawing sempat bilang, “Coba lain waktu datang di awal tahun, Dia punya rumput berwarna hijau begitu. Cantik”. Gue semakin nggak kebayang gimana cantiknya Pulau Padar kalau rumputnya lagi hijau. Mungkin Dian sastro doang sih lewat cantiknya.  

Dengan mulut yang masih bau naga, Gue , Gata dan Anggi langsung bersiap-siap untuk trekking. Anggi terlihat sudah duduk sambil sesekali menguap di atas boat kecil, dengan T-shirt putih dipadukan outer flannel merah dan juga celana jogger berwarna krem. Sementara Gata yang baru selesai mandi sedang terburu-buru memakai celana cargo abu-abu dan flannel birunya. “ Buruan Gat..lama banget dandannya kaya ABG Lo!” Teriak Anggi.

“Bawel” Kata Gata, ketus.

Gue pun bersyukur akhirnya bisa menginjakan kaki di Pulau Padar.  Selama ini gue cuma lihat dari postingan orang-orang di Instagram. Sebanyak kaki melangkah, sebanyak itu pula keindahan pemandangan yang diberikan pulau padar.  

Ombak yang begitu tenang terlihat dari atas bukit perlahan menyentuh bibir pantai pulau padar. Benar kata Ncank, Cukup dengan waktu 30 menit, Gue, Gata dan Anggi sampai di puncak pulau padar. Nggak ada satupun dari kita yang berkomentar selain tersenyum kagum sambil menikmati pemandangan.

Trekking ke puncak Pulau padar cukup banyak menguras tenaga. Beruntung Chef Saiful sudah menyiapkan hidangan laut spesial dan juga pisang goreng ala flores. “Semua kenyang, semua senang!” Celetuk Gata sambil menepuk-nepuk perutnya. Semua pun larut dalam tawa mengisi perjalanan berikutnya menuju Pink Beach.



Dulu gue sempat mikir, kalo Pink beach itu Cuma editan photoshop. Karena jaman sekarang, dengan photoshop, kulit muka yang gradagan kaya jalan pantura aja bisa dibikin mulus kaya kulit Syahrini. Tapi ternyata asumsi gue salah. Begitu melihat secara langsung Pink Beach, Gue, Gata dan Giti langsung lompat kegirangan dari boat  kecil ke pantai saking penasaran sama pasirnya yang berwarna pink.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Ternyata warna pink itu berasal dari Alga merah yang terurai oleh air laut, sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil dan tercampur oleh pasir berwarna putih. Air lautnya yang jernih berhasil membuat kami bertiga betah berenang berjam-jam. Sampai akhirnya perut kita mulai keroncongan.

Beruntung di kapal ada Mas Saiful. Layaknya seorang Ibu rumah tangga, Mas Saiful pun teriak menyuruh kami bertiga naik ke kapal untuk makan. Seperti biasa, Dia nggak pernah gagal bikin hidangan yang enak. Begitu selesai makan dengan perut kenyang, Gue, Gata dan Anggi memilih istirahat sambil sedikit bercerita selama perjalanan menuju Gili Laba.



Kapal akhirnya berlabuh di Gili Laba begitu langit sudah hampir gelap. Dengan sigap, Gata langsung turun dari kapal sambil membawa tenda. Sewaktu Gata dan Gue sibuk memasang tenda, muncul tamu yang tak diundang dari balik pohon. Dua ekor Rusa yang malu-malu ingin menyapa dan menyambut kedatangan kami bertiga. Anggi yang sejak tadi mandorin Gue dan Gata, langsung mencoba menghampiri rusa tersebut. Sampai akhirnya rusa itu kabur perlahan.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Setelah cukup pusing mencari kayu untuk membuat api unggun, Akhirnya Gue dan Gata berhasil menyalakan Api Unggun dengan kayu seadanya. Sementara itu, Anggi masih sibuk membuatkan kopi flores yang diberikan oleh mas Saiful.

  Di depan tenda, kita berbincang tentang segala hal. Mulai dari kopi yang paling enak di Indonesia, traveling, sampai curhatan  Gata tentang mantannya yang bikin Gue dan Anggi ngantuk.

“Yah..kok kalian nggak asik. Gue cerita malah merem melek gitu matanya” Kata Gata

“Ya lo lagian curhat soal mantan kaya bacain buku Harry Potter. Panjang banget. Udah ah mau tidur gue” Balas Anggi, lalu masuk ke dalam tenda.

“Tau lo Gat, lo curhat apa khotbah jumat sih?” Sambung Gue.

“Ahahaha..Sial lo semua. Yaudah yok tidur, udah ngantuk juga gue.” Ajak Gata

“Yuk!” Jawab Gue mantap.Api unggun yang hampir padam serta sisa kopi yang sudah dingin menutup malam kami bertiga di Gili laba. 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Kicauan Gagak-gagak hitam yang bersahutan berhasil menjadi alarm kita pagi itu. Dari kapal yang berlabuh tidak Jauh dari tenda kami bertiga, Pak Salawing beteriak menyuruh kita untuk segera membereskan tenda dan langsung berangkat menuju Manta Point.

Manta Point adalah salah satu spot yang wajib dikunjungi. Kalau lagi beruntung, kita bisa melihat rombongan Manta Ray berenang di atas permukaan laut. Tapi sayang, kami bertiga kurang beruntung. Karena arus laut yang cukup besar, alhasil kami bertiga hanya bisa melihat Manta Ray selebar kurang lebih 4 meter di dasar laut. Meskipun begitu, kami sudah sangat puas melihat beberapa Manta Ray berenang layaknya pesawat tempur. 



Nggak tau kenapa, sehabis melihat Manta gue langsung kepikiran mantan. Gue tahu emang nggak ada korelasinya antara Manta dan Mantan. Cuma namanya aja yang hampir mirip. Tapi, keduanya sama-sama bisa kasih pengalaman yang susah buat dilupain.

Begitu juga waktu Gue, Gata dan Anggi diajak mampir sebentar ke pulau gusungan oleh kru kapal. Gue langsung berdiri sambil menenggelamkan kaki gue di laut yang super jernih. Saking jernihnya, gue bisa melihat bulu-bulu kaki gue bergerak layaknya anemon laut.

Di depan gue, terbentang laut dengan gradasi warna dari putih,hijau tosca, sampai biru muda. Gue jadi berpikir, kayanya nggak perlu jauh-jauh ke maldives buat liat air laut sejernih di pulau gosong.

“Gila...kaya di maldives ya guys. parah..haha” Teriak Anggi sambil lari-lari kegirangan.

“Yoi..fix kalo gue udah nikah nanti  gue bakal ajak istri gue honeymoon ke sini” Kata Gata yang juga ikut berdiri di sebelah gue.

“In your dream bro! pacar aja nggak punya” kata gue usil

“Hahaha..bangke lo” Jawab Gata.

“HA HA HA!” Anggi tertawa puas.

Sadar kalo terlalu lama bermain di pulau gosong kulit kita bertiga bisa jadi ‘gosong’, kita pun langsung balik ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Loh buaya. Di dalam kapal, Anggi nggak berhenti ngetawain Gata yang mukanya udah mulai ‘gosong’.

“kulit lo udah hampir nyaingin michael jordan gat. hahaha” Celetuk Anggi.

“Ye....apaan sih lo, nanti juga putih lagi...” Jawab Gata ketus.

“Haha.. once you black, you never go back..” Lanjut Anggi.