ERIGO STORE

Komodo Island Part I

Mar 04, 2016

Ada perasaan haru bercampur senang ketika kapal mulai bergerak dari dermaga Labuan Bajo. Pintu gerbang menuju pulau Komodo.

Haru karena nggak nyangka bias menginjakan kaki disalah satu pulau tercantik di Indonesia ini. Senang karena bisa pergi bareng sama dua orang teman yang baru beberapa bulan gue kenal di salah satu acara. Gata dan Anggi.

Selama perjalanan dari Labuan Bajo menuju destinasi pertama yakni, Pulau Kelor, Gata dan Anggi terlihat sama exited-nya kaya gue. Anggi sibuk memotret pulau-pulau kecil yang ada di sekeliling laut dengan kamera analognya. Sementara Gata yang sedang berdiri di bagian ujung kapal, asik melihat pemandangan dengan binocullarnya.

“Nah, itu Pulaukelor, sebentar lagi kita snorkeling di sana ”teriak Pak Salawing, dari dalam ruang kemudi. Beberapa menit kemudian, Pak Salawing mematikan mesin kapalnya lalu menghampir Gue yang sedang duduk menikmati pemandangan di deck kapal. Gue sedikit kaget melihat kumis hitam tebalnya yang hampir menutupi bibirnya. Andai waktu itu gue lagi megang sisir, mungkin langsung gue sisir kumis Pak Salawing.

“Kita punya waktu snorkeling cuma satu jam, karena ini langit sudah hamper gelap” kata Pak Salawing dengan logat Floresnya sambil sedikit tersenyum. Pak Salawing ini termasuk salah satu kapten kapal yang sangat murah senyum. Senyumannya begitu pas dengan kumis hitam tebal yang mungkin menjadi kebanggaan istrinya.

Gue, Gata dan Anggi langsung segera naik ke boat kecil sambil membawa perlengkapan snorkeling. Bisa dibilang, Pulau Keloritu termasuk salah satu tempat yang bagus banget buat snorkeling. Airnya yang jernih, terumbu karang yang masih terjaga, dan juga berbagai macam spesies ikan coral reef sangat memanjakan mata gue sewaktu snorkeling. Nggak heran kalo selama snorkeling, Anggi sering banget menggeliat saking senangnya melihat beberapa Ikan nemober sembunyi di balik anemon laut.  

Pantulan sinar matahari kelaut menutup kegiatan snorkeling di Pulau Kelor. Agak sedikit kecewa karena waktu snorkeling yang cukup singkat. Tetapi, begitu selesai snorkeling dan naik ke kapal lagi, rasa kecewa itu seketika hilang ketika Mas Saiful, yang bertugas sebagai kepala chef kapal, sedang menghidangkan berbagai menu masakan. Mulai dari mie instan, opor ayam, sayur buncis, dan juga ikan kakap bumbu rica-rica, semua tersusun rapih di atas meja.

Gue, Gata, Anggi dan beserta kru kapal lainnya langsung makan dengan lahap sambil sesekali bercanda.

“Mas Saiful kenapa nggak ikut Master Chef aja mas. Enak banget lho ini masakannya” celetuk Gata dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Mas Saiful cuma membalasnya dengan senyuman lebar.

“Bener lho mas, ini enak banget. Aku aja kalo bisa masak kaya gini, pasti udah ikutan Master Chef deh” kata Anggi menambahkan. Lagi-lagi Mas Saiful yang sedang sibuk mencuci penggorengan cuma tersenyum dengan tatapannya yang kosong. Mungkin dia lagi kepikiran waktu dulu istrinya pernah ngomel-ngomel nyuruh dia ikutan Master Chef.

“Alah, kemaren lu mau masak nasi goreng aja malah jadi bubur sum sum Nggi. Hahhaha” Kata Gata bercanda. Spontan Anggi mengambil garpu yang ada di depannya. “Gue lempar ya Gat!” ancam Anggi.

“Wets, selow dong sis..” Kata Gata sambil tertawa.

Candaan di atas kapal membuat 2 jam perjalanan menuju Pulau Padar jadi nggak berasa. Encank, salah satu kru kapal kami, mulai menurunkan jangkar kelaut tidak jauh dari Pulau Padar.